lailaberbagicerita

"Laa haula walaa quwwata illaa billaahil'aliyyil'adzhim." (Tiada daya & kekuatan kecuali dengan pertolongan ALLAH Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)"

HUKUM ISTIHZA’ BID DIN (MEMPEROLOK-OLOK AGAMA)

oleh

Ustadz Abu Ihsan Al Atsary

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitabNya:

يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَن تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُم بَمَا فِي قُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِءُوا إِنَّ اللهَ مُخْرِجُ مَاتَحْذَرُونَ

Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan RasulNya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti. [at-Taubah/9 : 64].

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya, kamu selalu berolok-olok?”. [at Taubah/9 : 65].

لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. [at- Taubah/9 : 66].

Ayat ini menjelaskan sikap orang-orang munafik terhadap Allah, RasulNya dan kaum mukminin. Kebencian yang selama ini mereka pendam, terlahir dalam bentuk ejekan dan olok-olokan terhadap Allah dan RasulNya. Berkaitan dengan ayat ini, Ibnu Katsir mencantumkan sebuah riwayat dari Muhammad bin Ka’ab Al Qurazhi dan lainnya yang menjelaskan kepada kita bentuk pelecehan dan olokan mereka terhadap Allah, RasulNya dan ayat-ayatNya.

Ia berkata: Seorang lelaki munafik mengatakan: “Menurutku, para qari (pembaca) kita ini hanyalah orang-orang yang paling rakus makannya, paling dusta perkataannya dan paling penakut di medan perang.”

Sampailah berita tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu orang munafik itu menemui Beliau, sedangkan Beliau sudah berada di atas ontanya bersiap-siap hendak berangkat. Ia berkata: “Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Maka turunlah firman Allah.

أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ

“Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” sesungguhnya kedua kakinya tersandung-sandung batu, sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menoleh kepadanya, dan ia bergantung di tali pelana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[1]

Ayat ini menjelaskan hukum memperolok-olok Allah, RasulNya, ayat-ayatNya, agamaNya dan syiar-syiar agama, yaitu hukumnya kafir. Barangsiapa memperolok-olok RasulNya, berarti ia telah memperolok-olok Allah. Barangsiapa memperolok-olok ayat-ayatNya, berarti ia telah memperolok-olok RasulNya. Barangsiapa memperolok-olok salah satu daripadanya, berarti ia memperolok-olok seluruhnya. Perbuatan yang dilakukan oleh kaum munafikin itu adalah memperolok-olok Rasul dan sahabat Beliau, lalu turunlah ayat ini sebagai jawabannya.

Sikap memperolok-olok syi’ar agama bertentangan dengan keimanan. Dua sikap ini, dalam diri seseorang, tidak akan bisa bertemu. Oleh karena itu, Allah menyebutkan bahwa pengagungan terhadap syiar-syiar agama berasal dari ketaqwaan hati. Allah berfirman.

ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati. [Al Hajj/22 : 32].

MAKNA ISTIHZA’
Istihza’, secara bahasa artinya sukhriyah, yaitu melecehkan [2]. Ar Raghib Al Ashfahani berkata,”Al huzu’, adalah senda-gurau tersembunyi. Kadang-kala disebut juga senda-gurau atau kelakar.” [3]

Al Baidhawi berkata,”Al Istihza’, artinya adalah pelecehan dan penghinaan. Dapat dikatakan haza’tu atau istahza’tu. Kedua kata itu sama artinya. Seperti kata ajabtu dan istajabtu.” [4]

Dari penjelasan di atas, dapat kita ketahui makna istihzaa’. Yaitu pelecehan dan penghinaan dalam bentuk olok-olokan dan kelakar.

ISTIHZA’, DAHULU DAN SEKARANG
Perbuatan mengolok-olok agama dan syi’ar-syi’ar agama ini, bukan hanya muncul pada masa sekarang; namun akarnya sudah ada sejak dahulu. Banyak sekali bentuk-bentuk istihzaa’ yang dilakukan oleh orang-orang dahulu maupun sekarang. Diantaranya:

-Dalam bentuk pelesetan-pelesetan yang menghina agama.
Bisa dikatakan, Yahudilah yang menjadi pelopor dalam membuat pelesetan-pelesetan yang isinya menghina Allah, RasulNya dan Islam. Sikap mereka ini telah disebutkan oleh Allah dalam firmanNya.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (Muhammad): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih. [al-Baqarah/2:104].

Raa’ina, artinya sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. Dikala para sahabat menggunakan kata-kata ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang Yahudipun memakainya pula, akan tetapi mereka pelesetkan. Mereka katakan ru’unah, artinya ketololan yang amat sangat. Ini sebagai ejekan terhadap Rasulullah. Oleh karena itulah, Allah menyuruh para sahabat agar menukar perkataan raa’ina dengan unzhurna, yang juga sama artinya dengan raa’ina.

Yahudi juga memelesetkan ucapan salam menjadi as saamu ‘alaikum, yang artinya (semoga kematianlah atas kamu). Mereka tujukan ucapan itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebelumnya, hal sama sebenarnya telah mereka lakukan terhadap Nabi Musa Alaihissallam. Allah menceritakannya dalam KitabNya.

وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوامِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَّغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ . فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلاً غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِّنَ السَّمَآءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya dengan bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik. Lalu orang-orang yang mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zhalim itu siksaan dari langit, karena mereka berbuat fasik. [al-Baqarah/2:58-59].

Mereka disuruh mengucapkan hiththah, yang artinya bebaskanlah kami dari dosa. Namun mereka pelesetkan menjadi hinthah, yang artinya beri kami gandum.

Memang, urusan peleset-memelesetan ini orang Yahudi merupakan biangnya. Celakanya, sikap seperti inilah yang ditiru oleh sebagian orang jahil. Mereka menjadikan agama sebagai bahan pelesetan. Seperti yang dilakukan oleh para pelawak yang memelesetkan ayat-ayat Allah dan syi’ar-syi’ar agama.

Sebagai contoh, memelesetkan firman Allah yang berbunyi “laa taqrabuu zina” kemudian diartikan “jangan berzina hari Rabu!” Bahkan sebagian oknum itu, ada yang berani memelesetkan arti firman Allah: Inna lillahi wa inna ilahi raji’un, dengan arti “yang tidak berkepentingan dilarang masuk!” dalam bentuk guyonan dan lawakan. Kepada orang seperti ini, kita ucapakan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Demikian pula, kita sering mendengar dari sebagian orang yang memelesetkan lafadz azan. Sebagai contoh ucapan “hayya ‘alal falaah”, mereka pelesetkan menjadi “hayalan saja”. Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk pelesetan, yang hakikatnya adalah pelecehan dan istihzaa’ terhadap syi’ar-syi’ar agama. Hendaklah orang-orang yang melakukannya segera bertaubat dengan taubatan nasuha. Dan bagi para orang tua, hendaklah mencegah dan melarang anak-anaknya, apabila mendengar anak-anak mereka melatahi pelesetan-pelesetan bernada pelecehan tersebut. Hendaklah mereka ketahui, bahwa perbuatan seperti itu merupakan perbuatan Yahudi.

-Dalam bentuk ejekan dan sindiran terhadap syi’ar-syi’ar agama dan orang-orang yang mengamalkannya.
Seringkali kita mendengar sebagian orang tak bermoral mengejek wanita-wanita Muslimah yang mengenakan busana Islami dengan bercadar dan warna hitam-hitam dengan ejekan “ninja! ninja! Atau seorang Muslim yang taat memelihara jenggotnya dengan ejekan “kambing!” Atau seorang Muslim yang berpakaian menurut Sunnah tanpa isbal (tanpa menjulurkannya melebihi mata kaki) dengan ejekan: “pakaian kebanjiran”. Sering kita dapati di kantor-kantor, para pegawai yang taat menjalankan syi’ar agama ini diejek oleh rekan kerjanya yang jahil alias tolol. Sekarang ini kaum muslimin yang taat menjaga identitas keislamannya, seringkali dicap dan diejek dengan sebutan teroris dan lain sebagainya. Yang sangat memprihatinkan adalah para pelaku pelecehan dan pengejekan itu adalah dari kalangan kaum muslimin sendiri.

-Dalam bentuk sindiran terhadap Islam dan hukum-hukumnya.
Seperti orang yang mengejek hukum hudud dalam Islam, semisal potong tangan dan rajam dengan sebutan hukum barbar. Menyebut Islam sebagai agama kolot dan terkebelakang. Menyebut syariat thalak dan ta’addud zaujaat (poligami) sebagai kezhaliman terhadap kaum wanita. Atau ucapan bahwa Islam tidak cocok diterapkan pada zaman modern. Dan ucapan-ucapan sejenisnya.

–Dalam bentuk perbuatan dan bahasa tubuh atau gambar.
Seperti isyarat, istihzaa’ dalam bentuk karikatur dan sejenisnya.

JENIS-JENIS ISTIHZA’
Istihza’ ada dua jenis. Pertama. Istihzaa’ sharih. Seperti yang disebutkan dalam ayat di atas. Yaitu perkataan orang-orang munafik terhadap sahabat-sahabat Nabi. Kedua. Istihza’ ghairu sharih. Jenis ini sangat luas dan banyak sekali cabangnya. Diantaranya adalah ejekan dan sindiran dalam bentuk isyarat tubuh. Misalnya, seperti menjulurkan lidah, mencibirkan bibir, menggerakkan tangan atau anggota tubuh lainnya.

HUKUM ISTIHZA’
Istihzaa’ termasuk salah satu dari pembatal-pembatal keislaman. Dalam ta’liq (syarah) terhadap kitab Aqidah Ath Thahawiyah, Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: “Pembatal-pembatal keislaman sangat banyak. Diantaranya adalah juhud (pengingkaran), syirik dan memperolok-olok agama atau sebagian dari syi’ar agama –meskpin ia tidak mengingkarinya-. Pembatal-pembatal keislaman sangat banyak. Para ulama dan ahli fiqh telah menyebutkannya dalam bab-bab riddah (kemurtadan). Diantaranya juga adalah menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.”

Ketika mengomentari surat At Taubah ayat 64-66 di atas, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Ayat ini merupakan nash bahwasanya memperolok-olok Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya hukumnya kafir.”[5]

Al Fakhrur Razi dalam tafsirnya mengatakan: “Sesungguhnya, memperolok-olok agama, bagaimanapun bentuknya, hukumnya kafir. Karena olok-olokan itu menunjukkan penghinaan; sementara keimanan dibangun atas pondasi pengagungan terhadap Allah dengan sebenar-benar pengagungan. Dan mustahil keduanya bisa berkumpul.”[6]

Ibnul Arabi menjelaskan ayat tersebut sebagai berikut: “Apa yang dikatakan oleh orang-orang munafik tersebut tidak terlepas dari dua kemungkinan, sungguh-sungguh atau cuma berkelakar saja. Dan apapun kemungkinannya, konsekuensi hukumnya hanya satu, yaitu kufur. Karena berkelakar dengan kata-kata kufur adalah kekufuran. Tidak ada perselisihan diantara umat dalam masalah ini. Karena kesungguhan itu identik dengan ilmu dan kebenaran. Sedangkan senda gurau itu identik dengan kejahilan dan kebatilan.”[7]

Ibnul Jauzi berkata: “Ini menunjukkan bahwa sungguh-sungguh atau bermain-main dalam mengungkapkan kalimat kekufuran hukumnya adalah sama.”[8]

Al Alusi menambahkan perkataan Ibnul Jauzi di atas sebagai berikut: “Tidak ada perselisihan diantara para ulama dalam masalah ini.”

Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya: “Sesungguhnya, memperolok-olok Allah dan RasulNya hukumnya kafir, dan dapat mengeluarkan pelakunya dari agama. Karena dasar agama ini dibangun di atas sikap ta’zhim (pengagungan) terhadap Allah dan pengagungan terhadap agama dan rasul-rasulNya. Dan memperolok-olok sesuatu daripadanya, (berarti) menafikan dasar tersebut dan sangat bertentangan dengannya.”[10]

Ditambahkan lagi, istihza’ pada hakikatnya bertentangan dengan keimanan. Karena hakikat keimanan adalah pembenaran terhadap Allah k dan tunduk serta patuh kepadaNya. Orang yang memperolok-olok Allah, sesungguhnya ia menolak tunduk kepadaNya, karena ketundukan itu merupakan komposisi dari pengangungan dan memuliakan. Sementara itu olok-olokan adalah penghinaan dan pelecehan. Kedua perkara tersebut sangat berlawanan dan saling bertolak belakang. Apabila salah satu ada dalam hati seseorang, maka yang lain akan hilang. Dapatlah diketahui, bahwa istihza’, penghinaan dan pelecehan terhadap Allah, RasulNya dan ayat-ayatNya menafikan keimanan.

Ibnu Hazm mengatakan: “Nash yang shahih telah menyatakan, bahwa siapa saja yang memperolok-olok Allah setelah sampai kepadanya hujjah, maka ia telah kafir.”[11]

Al Qadhi Iyadh berkata: “Barangsiapa mengucapkan perkataan keji dan kata-kata yang berisi penghinaan terhadap keagungan Allah dan kemuliaanNya, atau melecehkan sebagian dari perkara-perkara yang diagungkan oleh Allah, atau memelesetkan kata-kata untuk makhluk yang sebenarnya hanya layak ditujukan untuk Allah tanpa bermaksud kufur dan melecehkan, atau tanpa sengaja melakukan ilhad (penyimpangan); jika hal itu berulang kali dilakukannya, lantas ia dikenal dengan perbuatan itu sehingga menunjukkan sikapnya yang mempermainkan agama, pelecehannya terhadap kehormatan Allah dan kejahilannya terhadap keagungan dan kebesaranNya, maka tanpa ada keraguan lagi, hukumnya adalah kafir.”[12]

An Nawawi menyebutkan dalam kitab Raudhatuth Thalibin: “Seandainya ia mengatakan -dalam keadaan ia minum khamar atau melakukan zina- dengan menyebut nama Allah! Maksudnya adalah melecehkan asma Allah, maka hukumnya kafir.” [13]

Ibnu Qudamah mengatakan: “Barangsiapa mencaci Allah, maka hukumnya kafir, sama halnya ia bercanda atau sungguh-sungguh. Demikian pula, siapa saja yang memperolok-olok Allah atau ayat-ayatNya atau rasul-rasulNya atau kitabNya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ . لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. [at-Taubah/9 : 65-66].”

Ibnu Nujaim mengatakan: “Hukumnya kafir, apabila ia mensifatkan Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagiNya atau memperolok-olok salah satu dari asma Allah Subhanahu wa Ta’ala.”[15]

Dari penjelasan para ulama di atas dapat disimpulkan, bahwa istihzaa’ bid din termasuk dosa besar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama. Oleh karena itu, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab memasukkan perkara ini sebagai salah satu pembatal keislaman.

SIKAP ISLAM TERHADAP PELAKU ISTIHZA’
Allah Azza wa Jalla berfirman dalam kitab-Nya:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ ءَايَاتِ اللهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ إِنَّ اللهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahannam. [an-Nisa’/4:140].

Berkaitan dengan ayat ini, Syaikh Abdurrahman As Sa’di mengatakan dalam tafsirnya [16]: “Yakni Allah telah menjelaskan kepada kamu –dari apa yang telah Allah turunkan kepadamu- hukum syar’i berkaitan dengan menghadiri majelis-majelis kufur dan maksiat. Allah mengatakan “bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan” yaitu dilecehkan, maka sesungguhnya kewajiban atas setiap mukallaf (orang yang sudah baligh dan berakal sehat) apabila mendengar ayat-ayat Allah adalah mengimaninya, mengagungkan dan memuliakannya. Itulah maksud diturunkannya ayat-ayat Allah. Dialah Allah yang karenanya telah menciptakan makhluk. Lawan dari iman adalah mengkufurinya, dan lawan dari pengagungan adalah melecehkan dan merendahkannya. Termasuk di dalamnya adalah perdebatan orang-orang kafir dan munafik untuk membatalkan ayat-ayat Allah dan mendukung kekafiran mereka.

Demikian pula ahli bid’ah dengan berbagai jenisnya. Argumentasi mereka untuk mendukung kebatilan mereka, termasuk bentuk pelecehan terhadap ayat-ayat Allah; karena ayat-ayat tersebut tidak menunjukkan kecuali hak, dan tidak memiliki konsekuensi lain selain kebenaran. Dan juga termasuk di dalamnya, (yaitu) larangan menghadiri majelis-majelis maksiat dan kefasikan, (dikarenakan) dalam majelis tersebut perintah dan larangan Allah dilecehkan, hukum-hukumNya dilanggar. Dan batasan larangan ini adalah “sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain”, yaitu mereka tidak lagi mengingkari ayat-ayat Allah dan tidak melecehkannya.

Firman Allah “Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka”. Yakni jika kamu duduk bersama mereka dalam kondisi seperti itu, maka kalian serupa dengan mereka, karena kalian ridha dengan kekufuran dan pelecehan mereka. Orang yang ridha dengan perbuatan maksiat, sama seperti orang yang melakukan maksiat itu sendiri. Walhasil, barangsiapa menghadiri majelis maksiat, yang disitu Allah didurhakai dalam majelis tersebut, maka wajib atas setiap orang yang tahu untuk mengingkarinya apabila ia mampu, atau ia meninggalkan majelis itu bila ia tidak mampu.”

Anehnya sebagian orang justru tertawa terbahak-bahak di depan televisi mendengar celotehan dan guyonan para pelawak yang mempermainkan simbol-simbol agama dan syi’ar-syi’arNya, wal iyadzu billah!

PENUTUP
Tulisan ini merupakan peringatan dan nasihat kepada segenap kaum muslimin dari perbuatan dosa besar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Berapa banyak kita dapati bentuk-bentuk penghinaan terhadap syi’ar-syi’ar agama, pelesetan-pelesetan yang berisi sindiran terhadap agama, karikatur-karikatur lelucon yang berisi ejekan dan lain sebagainya. Khususnya banyak kita dapati anak-anak kaum muslimin melatahi bentuk-bentuk istihza’ ini. Anehnya, para orang tua diam saja melihatnya tanpa memperingatkan atau memberi hukuman terhadap anak-anak mereka. Sehingga istihzaa’ ini menjadi hal yang biasa di kalangan kaum muslimin, padahal termasuk dosa besar. Na’udzubillah min dzalika.

Bagi siapa saja yang diserahkan mengurusi urusan kaum muslimin, hendaklah cepat tanggap mengambil tindakan terhadap setiap bentuk pelecehan terhadap agama, apapun bentuknya. Karena hal itu termasuk kejahatan yang harus dibasmi, dan pelakunya berhak dihukum dengan hukuman yang berat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun VIII/1425H/2004M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]. Silakan lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz II, hlm. 454, Cet Darul Alam Al Kutub Riyadh, cetakan kedua, tahun 1997-1418 H.
[2]. Silakan lihat Lisanul Arab (I/183) dan Al Mishbaahul Munir, hlm. 787.
[3]. Silakan lihat kitab Al Mufradaat, hlm. 790.
[4]. Silakan lihat Tafsir Al Baidhaawi (I/26).
[5]. Silakan lihat Ash Sharimul Maslul, hlm. 31 dan juga Majmu’ Fatawa (XV/48).
[6]. At Tafsir Al Kabir (XVI/124).
[7]. Ahkamul Qur’an (II/964), dan lihat juga Tafsir Al Qurthubi (VIII/197).
[8]. Zaadul Masiir (III/465).
[9]. Ruuhul Ma’aani (X/131).
[10]. Tafsir As Sa’di (III/259).
[11]. Al Fishal (III/299).
[12]. Asy Syifaa (II/1092).
[13]. Raudhatuth Thalibin (X/67) dan Mughnil Muhtaaj, karangan Asy Syarbini (IV/135).
[14]. Al Mughni (X/113), dan silakan lihat juga Kasyful Qanaa’ (VI/168) dan Al Inshaf (X/326).
[15]. Al Bahrur Raaiq (V/129), dan lihat juga Syarah Fiqh Al Akbar, tulisan Mulaa Ali Al Qaari, hlm. 227.
[16]. Taisir Karimir Rahman, hlm. 228

Sumber: https://almanhaj.or.id/5984-hukum-istihza-bid-din-memperolokolok-agama.html

#istihza
#becanda
#lelucon
#ejekan
#lawakan

Tinggalkan komentar »

ALLAH sisipkan kebahagian di setiap detik

birth-coloring-pages-11

Pagi itu…seperti biasa…Laila jalani rutinitas.

Karena banyak hal yang harus dilakukan, maka pesan wa di pagi hari tidak terbaca.

Tiba2 mama telp dan meminta tuk membaca wa.

Terbesit di hati, pasti ada yang penting. Dengan sigap ku buka aplikasi wa. Allahu akbar….tak menduga isi wa dari mama, berdegup kencang jantungku ketika membacanya.

Seiring waktu, alhamdulillah diri ini sudah bisa menata hati.

Kubalas pesan mama “alhamdulillah…iya ma mau..”

Segera ku forward pesan mama ke masku. Lalu kutambahkan pesan dariku “alhamdulillah mas…masku ridho atau tidak ?” Pesanku pun dibalas “insyaALLAH ridho. iya sayang, sabar dulu yaa. kita jg hrs hati2. Klo memang rejeki kita tdk akan kemana.”

Tak terasa air mata membasahi pipi. Alhamdulillah ya ALLAH….Engkau dengarkan doa2 kami.

Dalam sekejab banyak hal yang terlintas dalam pikiranku.

Bahagia menghiasi pikiranku, namun hati seolah mendewasa karena waktu dan mengendalikan pikiran2ku tersebut. Hatiku berkata “serahkan pada ALLAH la..insyaALLAH jika semua baik, maka ALLAH akan mudahkan segalanya. Jika ada yang tidak baik, setidaknya bersyukurlah karena detik ini ALLAH telah sisipkan kebahagiaan.”

Tak henti hati ini berdzikir. Walaupun pikiran2 sesekali terlintas.

Jika hal ini terjadi beberapa bulan atau beberapa tahun lalu, aku yakin…aku tak akan setenang ini menghadapi kebahagiaan ini. Pasti aku akan cepat2 bercerita ke sahabat atau saudara. Namun hal ini terjadi di hari ini. Hanya masku yang menjadi teman berbagi cerita pertama kali. Selain posisinya sebagai suami, namun ternyata memang lebih banyak hikmahnya jika segala hal tentang diri kita hanya kepada suamilah tempat berbagi.

Jujur….dalam percakapan wa kami pun sempat terlibat kk2 perempuanku. Kami membahas tentang air susu kk2 perempuanku yang dapat menjadikanku mahram dengan dirinya.

Iya….mahram…itu yang kami pikirkan pertama kali, ketika mamaku memberikan kabar melalui wa. “Ada bayi laki2 usia 2 hari yang ditinggal ibunya. Kamu mau ga ?”

Singkat isi wa mamaku. Namun ternyata mampu menguras pikiranku. Bahagia, senang, tak sabar, dan takut..

Bahagia….alhamdulillah akhirnya ALLAH dengar doa kami tuk mendapatkan keturunan, walaupun itu bukan dari rahimku dan alhamdulillah suamiku ridho akan hal ini.

Senang..karena mama berikan kabar bahwa bayi tersebut laki2 yang insyaALLAH dapat menjadi mahramku dengan air susu kk2 perempuanku. Maka seumur hidupku aku tak perlu takut dosa menyentuhnya krn kami sudah mahram.

Tak sabar..karena ingin secepat2nya bertemu dengan bayi laki2 tersebut. Banyak rencana dan amanah yang harus aku lakukan tuk bayi tersebut. Semua terlintas dalam pikiranku. Mulai dari minta pendapat ahli agama tentang akte kelahirannya agar tak dosa dunia akhirat, apakah boleh menasabkan nama kami karena ibu si bayi tak ada, apalagi ayah di bayi. Memikirkan kapan waktu yang tepat tuk memberi asi kk2 perempuanku pada si bayi. Memikirkan kapan sebaiknya proses aqiqahnya dilakukan, apakah secepatnya atau menunggu kabar sampai ayah ibu si bayi mencari2 dirinya. Dan pikiran2 lainnya. Tak dipungkiri juga, hal2 kecil lainnya seperti bajunya, mainannya, dan perlengkapan2 lainnya. MasyaALLAH….seolah2 pikiranku sudah melangkahi waktu yang belum terjadi.

Takut…..iya aku takut….di balik semua ini akan ada suatu hal yang tidak diharapkan yang insyaALLAH ada hikmahnya, namun sebagai manusia biasa, aku takut tuk merasakannya. Seperti kondisi fisik bayi yang tidak sehat sempurna, ibu bayi kembali datang menjemput, atau bahkan yang tak kuharapkan ternyata aku tak berjodoh dengan bayi laki2 tersebut. Astaghfirullah…tak henti2nya aku beristighfar dan berdzikir tuk menenangkan ketakutan2ku. Dan insyaALLAH aku berserah diri kepada ALLAH dan ikhlaskan apapun yang terbaik yang ALLAH berikan pada kami.

Masku tak henti2nya memberikan nasehat jika hal ini benar rejeki kami ataupun jika hal ini belum menjadi rejeki kami.

Alhamdulillah…aku bersyukur akan hari ini. Karena hari ini…aku dapat mengetahui isi hati suamiku..karena hari ini…aku dapat mengenal suamiku lebih dalam.

Qadarullah…….iya semua atas kehendak ALLAH..

kami tak berjodoh dengan bayi laki2 tersebut. Iya…sekali lagi laila sampaikan…kami tak berjodoh dengan bayi laki2 tersebut.

Bukan karena faktor dari bayi atau ibu bayi. Bukan pula karena dari faktor diriku, masku, dan mamaku yang menolak bayi laki2 tersebut.

Kami tak berjodoh karena memang bayi laki2 tersebut tak ada. Iya tak ada. Bayi laki2 ini hanyalah cerita fiksi dari seorang munafiqun, seseorang yang tak bisa dipegang ucapannya. Seseorang yang ketika mamaku tagih janjinya untuk membayar hutang tetapi malah membuat cerita fiksi ini.

Inna lillahi…astaghfirullah..entah apa yang ada dalam pikiran dirinya itu.

Mengapa dirinya tak mempertimbangkan hati mamaku, diriku, dan suamiku.

Entahlah…aku pun tak bisa berbuat apa2, karena insyaALLAH semua ini terjadi atas kehendak ALLAH.

Alhamdulillah…ALLAH telah sisipkan kebahagian di setiap detik di hari tersebut.

Terima kasih mama..karena telah mengingat kami di setiap doa2 dan hari2 yang mama lalui.

 

Tinggalkan komentar »

Semangat Pagi Ku

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?

Alhamdulillah…sejak awal nikah..di sms..dan sampai detik ini di wa..tak berubah, selalu sama kata2 pembuka hari kami.

Masku : Assalamualaikum ummu cantik, baik hati dan shalihah
Masku : Uhibbuki fillah sayangku 😘
Masku : ❤
La!La: Wa’alaikumsalam warahmatullah buya sholeh sabar n penyayang
La!La: Uhibbuka fillah buya
La!La: 😍😘
La!La: ❤

Jadi ingat, pertama kali belajar bahasa arab dg masku, di atas mobil berduaan sambil silaturahim ke rumah kerabat karena sudah membantu acara pernikahan kami.
“mas, kalau I love you bahasa arabnya apa ?”
Dijawablah “uhibbuki fillah”
“Oo kalau begitu, uhibbuki fillah masku”
Eeehh….malah diketawain.
“Lho….emang ada yg salah lafalnya mas ? Kok ketawa ?” Dengan wajah bingung, krn perasaan ga ada satu huruf pun yang salah aku ucapkan, semuanya persis yg diucapkan masku.
“Hehe….mas laki2 yang..”
“Iya trus aku salah apa ?”
“Kalau mau bilang ke ayang maka uhibbuki fillah, karena perempuan. Tp kalau mau bilang ke mas maka uhibbuka fillah, karena laki2”
“Oooo…kayak jazakallah dan jazakillah ya”
“Nah itu pinter, tau dari mana ? Emang les bahasa arab ?”
“Les…cuma 1x pertemuan di al manar, hehe….aku tau dari artikel2 di facebook mas”
“Serius, pernah di al manar ? Rawamangun ? Kapan ?”
“Ih mas kok tau, al manar rawamangun. Ooo mas dulu di sana ? Kalau aku cuma 1x pertemuan..hehe abis itu hilang akunya..hehe..kalai aku ga hilang, kita bisa ketemu di sana ya mas, ting…ting…ting….” sambil melirik2… 😉
“Ga ah……nanti kalau ketemu di sana, ga jadi ketemuan di KUA”

Barakallahu fii kum..alhamdulillah..jazakallah khairan masku..
Tanpa disadari….pujian dan rasa sayang yang diungkapkan, walaupun itu setiap hari, walaupun itu sudah basi karena bukan pengantin baru lagi, walaupun itu terkesan seperti abg, dan walaupun isinya itu2 aja setiap hari ☺

Tp justru sebenarnya itu perlu…karena rasa cinta itu akan hilang jika tidak dipupuk setiap hari. Karena semua pujian dan rasa sayang itu mampu menjadi obat mukjizat tuk menjalani semua rutinitas duniawi ini. Dan suami istri lah yang harus selalu sabar memupuk semua itu.

Dengan semua kekurangan kami dalam berumah tangga, insyaALLAH ini akan menjadi amunisi kami tuk menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Aamiin allahumma aamiin..

Tinggalkan komentar »

Rezeki tidak akan tertukar

images

 

images

Rezeki tak mungkin tertukar, Allah pasti membagi rezeki dengan adil.

Iya….rezeki sudah diatur oleh ALLAH.

Anak juga merupakan rezeki. Rezeki yang saat ini kami nantikan, mulai dari ikhtiar sekuat tenaga sampai dengan tenaga yang tertatih-tatih.

 

Hari ini….iya hari ini….aku mendapat kabar duka dan bahagia. Namun keduanya membuatku menangis.

Kabar pertama, kk sepupuku yang melahirkan prematur, harus ikhlas ditinggalkan putranya yang baru berusia 2 hari untuk selama-lamanya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Aku menangis…ya ALLAH…semua ketentuan-MU tak terduga..

Kabar kedua, ku dapat dari whatsapp. Seorang sahabat seperjuanganku untuk program kehamilan. Secara tiba2 pesannya masuk ke hp ku, bukan pesannya yang pertama kali kubaca, melainkan foto profilnya, suaminya menggendong bayi mungil. Dalam pesan itu dirinya menyapaku, aku balas dengan ramah dan langsung bertanya “btw suami gendong siapa ? Apakah anak **** ?” Ternyata, firasat ku sangat kuat. Pertanyaanku menjadi pembuka percakapan. Sahabatku segera bilang “iya mba laila..alhamdulillah..aku mau curhat bla bla”. Panjang lebar ia ceritakan. ALLAH memberikannya seorang bayi kecil yang berusia hitungan hari yang lahir dari rahim seorang ibu yang mengikhlaskan anaknya untuk diasuh oleh sahabatku. Sahabatku tak menyangka semua ini, karena bayi itu hadir dangan tiba2 di depan rumahnya melalui perantara kerabatnya. Hatiku tersentak..ada rasa bahagia, alhamdulillah sahabatku mendapatkan berkah dari ALLAH. Namun aku juga tak bisa bohong, ada hati yang teriris..berkurang lagi satu orang teman seperjuanganku dalam menanti kehamilan. Dan bahkan terbesit rasa cemburu, “seandainya aku yang mengalami hal tersebut”.

Namun ketika teringat pemikiran “seandainya” itu, hatiku pun tersentak beristighfar, astaghfirullah, jika “seandainya” juga ku berlakukan pada kejadian kk sepupuku..na’udzubillah..aku menangis…aku tak sanggup melanjutkan pemikiran “seandainya bayiku yang meninggal dunia”. Na’udzubillah..

Astaghfirullah..ENGKAU lah sebaik2nya penentu qada dan qadar kami. Aku tak sanggup berpikir”seandainya”. Itulah mengapa “seandainya” adalah ucapan terburuk dan disenangi syaitan..astaghfirullah..tak henti2nya aku istighfar.

Dengan kondisi hati yang tidak menentu ini, aku sapa masku melalui wa. Ku ceritakan kisah sahabatku, dengan ku forward seluruh isi chatnya agar ku tak menambah atau mengurangi curhatan sahabatku. MasyaALLAH…betapa hebatnya suamiku. Aku tersentak dengan isi chatnya

[26/9 13:08] . Masku : Iya sayangku, mari lanjutkan terus berdo’a kepada Allah 👍☺
[26/9 13:32] La!La : Iya masku..insyaALLAH semua sudah yang terbaik dari ALLAH

Menjelang sore, hatiku masih tak tenang, lagi2 ku sapa masku..
[26/9 15:36] La!La : masku, aku lagi galau..linglung
[26/9 15:36] La!La: Sepertinya kabar **** membuat aku ga konsentrasi
[26/9 15:37] . Masku : Banyak berdzikir ya sayangku
[26/9 15:37] . Masku : 😘😘😘😘😘😘😘😘
[26/9 15:37] . Masku : Rejeki tdk akan tertukar

MasyaALLAH…REZEKI TIDAK AKAN TERTUKAR. Tersentak hatiku. Ku cari berbagai artikel tentang REZEKI TIDAK AKAN TERTUKAR melalui situs pencari di internet. Kubaca. Ku resapi. Dan akhirnya ku kutip.

Ya…ku kutip firman ALLAH dalam Al-Qur’an, diantaranya :

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al Isra’: 30)

ALLAH Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba NYA. Ya..benar…jadi buat apa aku harus merasakan kesedihan, ketakutan, cemburu, linglung, risau, dan semua perasaan negatif lainnya. Hari ini aku sudah membuktikan, firman ALLAH ini telah terjadi pada sahabatku dan kk sepupu ku. ALLLAH sedang melapangkan dan menyempitkan rezeki mereka. Maka aku juga yakin, ALLAH pun saat ini juga sedang melapangkan dan menyempitkan rezeki ku.

Rezeki ALLAH itu luas. Jadi berhentilah menguras tenaga mu, laila. Berserah dirilah kepada ALLAH untuk mengatur rezekimu. Hatiku tak henti2nya meyakinkan diriku.

Iya..insyaALLAH..hamba yakin ya ALLAH. Hamba berserah diri tuk semua rezeki dari MU.

 

Hamasah…..semangat….ganbatte….ayo Laila……pasti bisa….jangan ragu…ALLAH sudah mengatur rezekimu.

 

😊😊😊😊😊😊

Salam senyum dari Laila dan masku

photogrid_1474883068706

6 Komentar »

160816

photogrid_1471330199432

خَـيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْاآنَ وَعَلَّمَهُ

”Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Bukhari)

Belajar al quran dan islam sambil mendokumentasikan hasil jepretan sendiri ☺
InsyaALLAH istiqomah dan bermanfaat.

Tinggalkan komentar »

Cinta kami saat ini

PhotoGrid_1470233882295

Cinta kami saat ini adalah keberkahan dari-Mu ya ALLAH.

Atas ridho-Mu semua kami lalui.

Pasang surut silih berganti di hari-hari kami.

Tawa dan sendu menghiasi wajah kami.

Doa dan dzikir terlisan di bibir dan hati kami.

Namun…maafkan kami ya ALLAH jika kami sempat terpuruk, maafkan kami ya ALLAH jika kami sempat tertatih.

5 tahun sudah kami menjadi satu.

Semula dipersatukan karena janji pernikahan.

Lalu perlahan kami menyadari bahwa semua ini adalah ibadah kami kepada-Mu ya ALLAH.

Dan akhirnya kami pun menikmati bahwa semuanyang terjadi pada kami adalah ridho-Mu ya ALLAH.

InsyaALLAH..cinta kami saat ini karena ridho-Mu.

Aamiin.


Setiap wanita yang sudah menikah (pada kodratnya) menantikan kehamilan.

Begitu juga dengan laila. Bahkan masku, sudah mempersiapkan biaya persalinan untuk calon istrinya yang belum ia kenal dan belum ia nikahi itu.

Manusia boleh berencana, namun ALLAH yang berkehendak. Akhirnya biaya persalinan tersebut, kami pakai untuk biaya laparoskopi ketika diriku divonis kista endometriosis.

Ketika diri bersemangat program kehamilan, dokter pun kami jadikan agenda rutin. Tak terhitung dana, waktu, dan tenaga yang sudah kami investasikan di Rumah Sakit.

Ketika semangat masih membara namun diri tertatih mengiringinya, alternatif pun menjadi solusi pembakar jiwa.

Pasang surut kami lalui. Hingga saat ini, kami masih harus melaluinya.

Alhamdulillah..ALLAH Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sesaat setelah berakhirnya inseminasi pertama dengan rasa sedih. ALLAH berikan kami pelangi. Alhamdulillah…ALLAH beri kami rejeki pekerjaan yang insyaALLAH semakin berkah.

Begitu juga saat inseminasi kedua tidak sesuai dengan harapan kami. Alhamdulillah ALLAH pun memberikan embun penyegar bagi kami. Alhamdulillah..diriku menuju gerbang penunjang karir yang insyaALLAH semakin memberkahi kami.

images

InsyaALLAH…kami belajar untuk semua ini.

Belajar ikhlas, sabar, dan tawakkal melalui setiap detik kehidupan ini.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Jadi…jangan ragu dan sesali apapun yang sudah kita lakukan. Karena niscaya semua yang kita lakukan tersebut adalah tiket untuk mendapatkan kemudahan2 yang tak pernah kita sangka2.

Uhibbuka fillah masku.

Jazakallah…sudah memilihku menjadi istrimu, sudah memberiku beribu-ribu kesempatan menjadi lebih baik dari hari ke hari, dan sudah menjadi motivator hidupku.

InsyaALLAH…ALLAH memberkahi kita..aamiin..

 

4 Komentar »

Bismillah..mohon doa tuk laila dan masku

Assalamu’alaikum..

Bismillah…melalui postingan singkat ini, laila mohon doa dari sahabat..

InsyaALLAH semua ikhtiar kami diberkahi ALLAH dan dimudahkan semua prosesnya..aamiin..

InsyaALLAH doa yang sama tuk semua sahabat laila..aamiin..

Wassalamu’alaikum

Screenshot_2016-06-30-05-42-59

—-berbagi ceritaku terbaru—–

Screenshot_2016-07-02-06-20-13

Setelah proses B-HCG yang menunjukkan hormon kehamilan. Kami sempat berdoa semua dimudahkan prosesnya oleh ALLAH.

Berkali2 suntik penguat kandungan. Kondisi tubuh yang memang terasa beda.

Qadarullah….akhirnya kami masih harus ikhtiar berjuang kehamilan lagi..

Haid pun hadir di penghujung bulan ramadhan.

Jazakillah..terima kasih..untuk semua doa sahabat2 laila..

InsyaALLAH kami masih membutuh doa sahabat.

Bismillah..mari kita berikhtiar lagi.

InsyaALLAH..kita semua akan diberkahi kehamilan oleh ALLAH..aamiin..

4 Komentar »

Ucapan Idul Fitri yang Sesuai Sunnah Rasulullah saw

FB_IMG_1467242345278Oleh : Penulis: Ust. Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.

Sehubungan dengan akan datangnya Idul Fitri, sering kita dengar tersebar ucapan:

“MOHON MAAF LAHIR & BATHIN ”.

Seolah-olah saat Idul Fitri hanya khusus untuk minta maaf.

Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idul Fitri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan.

Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku dihari Idul Fitri…

Demikian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,, mengajarkan kita

Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir dan Batin” disaat-saat Idul Fitri.

Satu lagi, saat Idul Fitri, yakni mengucapan :
“MINAL ‘AIDIN WAL FAIZIN”.

Arti dari ucapan tersebut adalah :
“Kita kembali dan meraih kemenangan”

KITA MAU KEMBALI KEMANA?
Apa pada ketaatan atau kemaksiatan?

Meraih kemenangan?
Kemenangan apa?

Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan?

Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yang mengucapkan
“ Minal ‘Aidin wal Faizin ”

Lantas diikuti dengan kalimat,
“ Mohon Maaf Lahir dan Batin ”.

Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya.

Ini sungguh KELIRU luar biasa…

Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain….

PASTI PADA BINGUNG….

Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI.

Ucapan yang lebih baik dan dicontohkan langsung oleh para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , yaitu :

“TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM”
(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).

Jadi lebih baik, ucapan / SMS /BBM / WA,, kita :

” Selamat Hari Raya Idul Fitri. Taqobbalallahu minna wa minkum ”
Barakallahu Fiikum

Kewajiban kita hanya men-syiar kan selebihnya kembalikan kepada masing-masing.. Krn kita tdk bisa memberi hidayah kpd orang lain hanya Allah lah yg bisa memberi hidayah kepada hamba NYA yg IA kehendaki

Tinggalkan komentar »

Laila……apa kabar ?

Assalamu’alaikum

 

Dear laila apa kabar ?

Sudah lama ga posting di blog ini ? Apalagi tentang jejak hidupmu. Padahal…..tahukah kamu, laila ?

Banyak orang yg searching dan ketemu blog kamu.

Banyak orang yg jd silent reader blog kamu.

Banyak orang yg menanti kelanjutan cerita2mu di langkah hidupmu.

Banyak orang yg menyambung silaturahim via email dan wa krn blog kamu.

Banyak orang yg menunggu kabar bahagia kesuksesan program hamilmu.

Banyak lagi banyak-banyak di hal lain yg intinya “trus sekarang bgmn kabarmu, laila ?”

 

Ya…….saya laila. Lailaberbagicerita adalah caraku mendokumentasikan segala perjuanganku dan ikhtiarku di dunia ini.

Akhir2 ini blog ku terfokus akan kisah ikhtiar kehamilanku.

Banyak komentar di topik ikhtiar kehamilanku. Baik yg aku setujui tuk tampil di blog maupun sebagian ada yg belum aku setujui atau bahkan aku hapus. Iya…..itu semua karena aku pun belum siap menjawab pertanyaan di komentar2 tsb. Atau karena aku sedih dengan komentar itu, jadi ya hapus saja jalan pintasnya. Maaf ya sahabat…..

 

Laila tetaplah laila. Seperti laila laila di luar sana. Yang terkadang semangat naik gunung dan terkadang turun gunung dengan meluncur. Yang terkadang santai hingga enjoy dengan hidup dan terkadang kocar kacir menjalankan amanah di dunia ini.

Jadi maafkan laila yg belum lagi berbagicerita.

Bisa jadi karena sadar belum mau berbagicerita atau tidak sadar tahu2 sekarang tahun 2016. Opps…….cepatnya jarum berputar. Bumi berevolusi.

 

Alhamdulillah laila baik. Alhamdulillah laila masih dan akan terus berjuang tuk ihktiar hamil. Alhamdulillah dan alhamdulillah.

Mohon maaf baru ini jawabanku. Doakan laila dan masku selalu ya. InsyaALLAH akan ada kabar baik di blog ini. InsyaALLAH….kami yakin..aamiin.

 

Wassalamu’alaikum

Laila

 

 

2 Komentar »

151115

photogrid_1447667841804

خَـيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْاآنَ وَعَلَّمَهُ

”Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Bukhari)

Belajar al quran dan islam sambil mendokumentasikan hasil jepretan sendiri ☺
InsyaALLAH istiqomah dan bermanfaat.

Tinggalkan komentar »