lailaberbagicerita

"Laa haula walaa quwwata illaa billaahil'aliyyil'adzhim." (Tiada daya & kekuatan kecuali dengan pertolongan ALLAH Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)"

..AKU..

Jakarta, 11 Januari 2011

Aku bukan batu karang yg kekar diterpa ombak

Aku bukan awan yg mampu membasahi bumi dg tetesan air

Aku bukan air terjun yg mengalir deras dr ketinggian gunung

Aku bukan hutan yg menyejukkan dunia

Aku bukan sawah yg mampu menghijau lalu menguning

Aku bukan api yg dapat membakar dan membumi hanguskan

Aku bukan raja yg arif dan dermawan kpd rakyat

Aku bukan hakim yg adil di meja hijau

Aku bukan badut yg mengukir senyum keabadian

Aku bukan bayi yg hanya bisa menangis dlm berekspresi

Aku bukan mafia yg merencanakan kejahatan

Aku bukan pelari maraton yg melesat menuju garis akhir

Aku bukan Ahmad Dahlan yg mampu menjadi pencerah

Aku bukan buku yg mutlak menjadi tepian ilmu

Aku bukan jarum jam yg berputar tiada henti

Aku bukanlah semua itu..

Aku hanyalah aku..

Laksana seekor penyu di laut luas..

Tertatih berjalan di tepian pantai..

Memapah rumah keabadianku..

Berhenti ketika nafas terpatah2..

Lambat namun tdk terhentikan..

Tak mampu memandang luas namun tetap ke depan..

Tak memiliki daya kuasa namun tetap menghasilkan butiran telur yg tak selamanya produktif..

Tetap bjuang melewati ombak..

Melalui waktu wujud usia panjang..

Menanti akhir kehidupan..

Aku hanyalah Aku..

Yg terukir dg nama..Laila..

———–

“wahai kaumku ! Sesungguhnya khidupan dunia ini hanyalah ksenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yg kekal” Qs. Al-Mu’min : 39

=La!La=

Pembakar semangat ketika raga tak sanggup dan berkata lelah.

Namun waktu terus perputar, hidup tetap berjalan.

Jangan menyerah. Tetap berjuang meraih Ridho ALLAH swt.

Iklan
Tinggalkan komentar »

Ta’aruf

Jakarta, 10 Januari 2011

Mungkin aku bukanlah wanita yang pandai merangkai cerita hidupku. Setelah semua yang telah ku lalui sebelum detik ini. Rasanya bagi ku lebih baik tak ada satu pun yang tahu sejarah hidupku. Karena rasanya akan menyakitkan jika ternyata yang orang lain ketahui adalah sejarah hidup yang tidak berakhir dengan kebahagiaan. Rasanya tak nyaman jika setelah mereka tahu kisahku lalu mereka merasa iba atau berpikir di luar daya pikirku. Hal itu akan membuatku semakin berat mengambil keputusan. Karena aku khawatir keputusanku akan salah di mata mereka.

Ya..memang aku sudah tak muda lagi. Ya..memang ini juga bukan tuk yang pertama kalinya. Ya..aku juga tak yakin bagaimana ending kisah ini. Apakah akan berakhir seperti yang lalu ? namun entah mengapa, kali ini aku merasa lebih ringan melangkah dan mengambil keputusan. Bahkan lebih ringan tuk melibatkan mama dalam waktu singkat.

Setelah banyak kisah yang aku lalui. Setelah aku lelah terjatuh. Dan ketika aku mulai berserah diri kepada ALLAH swt. Subhanallah..dirimu datang. Dari caramu mengetuk hati ini. Dari caramu mengucapkan salam pada hati ini. Hingga dari caramu meyakinkanku untuk meminta izin memasuki hati ini. Semua kau lakukan dengan indah dan menenangkan. Seolah aku tak hidup di dunia metropolitan. Seolah semua tarbiyah yang aku pelajari di bangku kuliah dapat aku terapkan.

Kau sapa diriku. Kau perkenalkan dirimu. Kau tanya kesiapan diriku. Kau yakinkan keluargaku. Subhanallah..aku dapat melalui tahap ini. Tahap yang dahulu hanya ku kenal di dalam liqa. Tahap yang dahulu hanya sempat kulalui beberapa saat, karena ALLAH swt berkehendak lain.

Ya..kau datang mengetuk hati ku. Kau datang dengan Biodata dirimu. Kau datang memohon izin untuk memulai tahap Ta’aruf. Subhanallah..hatiku malam ini hilang rasa. Entah bahagia..takut..cemas..ragu..atau tak sabar.

Alhamdulillah..biodata kita saling berkenan di keluarga kita. Hingga akhirnya dalam hitungan minggu, kau mohon izin untuk pertemuan keluarga. Ya ALLAH bagaimana mungkin pertemuan keluarga, aku saja belum melihat wajahmu. Tapi entah mengapa hati ini rasanya tenang melangkah melaluinya.

Kemarin aku merasa matahari bersinar dengan indah. Namun entah mengapa, aku tak memiliki kekuatan mengangkat wajah ku. Yang aku dengar, mamaku terbawa suasana bahagia ketika berbincang dengan orang tuamu. Aku hanya bisa berdzikir dalam hatiku. Dan tak henti2nya aku berdoa memohon keridhoa-NYA atas niat akan kita lakukan ini.

Alhamdulillah..pertemuan singkat untuk masa depanku telah aku lalui. Tahukah kamu ? ketika keluargaku bertanya “bagaimana menurut kamu ?” aku bingung tuk menjawab. Bagaimana yang mana batinku. Fisiknya kah ? tapi aku tak bisa menjawab, karena aku tak kuasa mengangkat wajahku dan melarikan pandanganku ke arahnya. Kepribadiannya ka ? tapi aku pun tak bisa menjawabnya, karena aku tak kuasa mendekatkan diri tuk bergabung, aku hanya duduk di sisi ruang. Namun aku yakin, mamaku dapat mewakili hatiku. Ya..insyaALLAH saat ini hati mamaku adalah kuncinya. Aku sudah banyak belajar dari masa lalu, bahwa ridho ALLAH adalah ridho orang tua.

InsyaALLAH..aku ikhlas menjalankan semua ini atas ridho mama. Semoga ALLAH meridhoi niat kita. Aamiin

 

=La!La=

Dalam keheningan malam.

Berserah diri kepada MU ya ALLAH swt.

 

Tinggalkan komentar »