lailaberbagicerita

"Laa haula walaa quwwata illaa billaahil'aliyyil'adzhim." (Tiada daya & kekuatan kecuali dengan pertolongan ALLAH Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)"

Ibu Rumah Syurga

pada Juni 5, 2012

Oleh Anung Umar

Suatu hari di siang hari terik terjadi percekcokan panjang antara teman saya dengan istrinya di telepon. Terlihat keletihan di raut wajahnya, sepertinya percekcokan itu sudah banyak menghabiskan energinya. Iapun akhirnya memutuskan untuk menghentikan sementara percekcokan. Sambil berusaha menenangkan dirinya ia mengirim SMS kepada istrinya untuk menenangkannya juga.

Ketika ia mulai menulis SMS, datanglah seorang anak kecil berumur sekitar empat tahun mendekat kemudian berdiri disampingnya. Anak itu pun membaca SMS yang ditulis: “Umi nggak usah khawatir, abi di sini..bla..bla..bla..” Teman saya terkaget-kaget, kemudian tersenyum karena takjub dan kagum dengan anak itu, ia berpikir: “Hebat juga tuh anak, masih kecil sudah bisa baca.” Ia pun menjadi terhibur. Kepalanya yang tadi “panas” karena percekcokan yang panjang dan melelahkan menjadi sedikit segar setelah melihat”keajaiban”anak itu.

Siapa anak itu? Mengapa anak itu sudah bisa baca di usianya yang masih kecil seperti itu? Mungkin ada yang berkata: “Ah sudah banyak anak yang seumurnya yang sudah bisa baca. ” Betul, tapi ada yang “janggal” dengan anak ini, ternyata ia belum sekolah dan sehari-harinya hanya di rumah saja, selain itu ia juga memiliki “kejanggalan” lain yaitu sudah menghafal Al-Quran hampir satu setengah juz di usianya yang seperti itu! “

Bukan hanya teman saya saja yang kagum, sayapun kagum melihat anak itu dan saya berangan-angan suatu saat anak sayapun seperti dia. Mungkin ada yang penasaran: “Memang anak siapa sih itu? ” Rupanya ia anak seorang ustadz. “Oh pantas anak ustadz, makanya wajar pintar seperti itu.” Mungkin demikian komentar beberapa orang setelah mengetahui kalau anak kecil itu adalah anak seorang ustadz. Lho apa bedanya anak ustadz dengan selain anak ustadz? Ustadz makan nasi dan saya pun makan nasi!

Mungkin ada yang menjawab pertanyaan saya tadi:”Betul kita dengan ustadz sama-sama makan nasi, tapi kalau ustadz kan punya ilmu agama dan waktu luang untuk mengajarkan anaknya, berbeda dengan kita.”

Untuk ilmu memang betul beliau punya ilmu, tapi kita kan bisa belajar juga seperti ustadz itu? Nah kalau masalah banyak waktu luang, faktanya justru berbicara lain, karena kenyataannya ustadz inipun sibuk mengajar di luar dan juga punya kesibukan berbisnis. Beliau tak punya waktu luang kecuali setelah Ashar dan malam selepas ‘Isya, itupun kadang tak teratur, karena kadang ada panggilan mendadak untuk mengisi talim di luar kota.

Lantas siapa yang mengajarkan anak itu selama ini? Ibunya? Ya, betul ibunya yang selama ini mengajarnya. Ibunyalah yang mengajarkan”keajaiban” kepada anak itu. Dialah yang mengajarkan anak itu baca dan menghafal Al-Quran. Adapun ustadz itu, beliau sesekali saja mengajarkannya kalau ada waktu luang.

Nah, berarti kalau saya menginginkan anak saya kelak menjadi anak yang saleh, saya harus mencari istri yang salihah yang siap stand by mendidik dan membimbing anak secara penuh, sementara saya akan giat mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehingga istri tak perlu sibuk juga mencari nafkah. Karena rasanya tak mungkin bisa mendidik anak menjadi anak saleh kalau semuanya sibuk bekerja di luar. Otomatis harus ada yang “dikorbankan”, harus ada yang stand by di rumah.

Taruhlah saya dan istri bekerja sampai waktu Maghrib, lantas siapa yang mendidik dan mengawasi anak dari pagi sampai petang? Siapa yang akan mengajarinya akhlak, adab dan agama, sedangkan anak itu lebih mudah terpengaruh dengan orang yang ada di dekatnya?

Apakah diserahkan ke pembantu? Kalau pembantunya orang yang baik agamanya dan akhlaknya sih, ya oke-oke saja, tapi kalau pembantunya malah mengajarkan yang nggak-nggak seperti kata-kata kotor, apa mungkin anak itu bisa menjadi anak saleh?

Atau diserahkan ke teman-temannya di sekolah atau tetangga? Kalau teman-teman dan tetangganya orang yang mengerti agama dan punya budi pekerti yang baik sih, saya setuju. Tapi kalau tetangga dan temannya justru mengajar yang bukan-bukan seperti pornografi dan pornoaksi, apa bisa anak itu menjadi anak yang saleh? Apalagi banyak anak di zaman sekarang mulai mengenal yang berbau porno justru dari teman-temannya.

Lantas apakah diserahkan ke tv? Kalau acara tv isinya hanya ceramah, bacaan Al-Quran, film pengetahuan dan acara-acara lain yang bermanfaat sih saya dukung untuk menontonnya, tapi kalau acara tv seperti sekarang yang mengajarkan buka-buka aurat, percintaan, dan kekerasan, maka apakah mungkin itu bisa mendidiknya menjadi anak yang saleh?

Jadi keberadaan seorang ibu yang stand by di rumah untuk mengurus dan mendidik anak ternyata sangat diperlukan dan bukanlah suatu yang sia-sia, karena dengan adanya ibu di rumah, anak akan merasakan perhatian yang cukup dari orang tuanya, dia merasa terbimbing sehingga tak akan kehilangan orientasi dan kendali diri dalam menghadapi kehidupannya.

Selain itu yang lebih penting lagi dengan keberadaannya di rumah sekaligus mengamalkan firman-Nya:
“Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (Al-Ahzab: 33)

Karena itu menjadi ibu rumah tangga merupakan suatu kemuliaan yang patut disyukuri, betapa tidak? Karena ia telah menjadi sebab kebaikan bagi keluarganya. Makanya seorang ibu rumah tangga seharusnya bangga dengan kedudukannya dan tak usah malu dengan “karirnya” di rumah dan juga tak perlu minder ketika ditanya: “Kerja di mana? ” Jawab saja: “Kerja di rumah, jadi sekretaris suami, dan manajer rumah tangga serta guru privat anak. “

Justru seorang ibu rumah tangga kalau serius dalam menjalankan tugasnya, ia akan menuai hasilnya baik di dunia maupun diakhirat. Adapun di dunia dia akan melihat buah hatinya tumbuh menjadi sosok yang saleh bermanfaat untuk keluarga, masyarakat, dan umat, di masa hidup kedua orangtuanya ia berbakti dan setelah mereka berdua wafat ia mendoakan mereka. Tentu saja itu kebahagiaan yang tiada tara bagi orangtuanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang anak Adam meninggal maka terputuslah amalnya kecuali karena tiga hal,(yaitu) Shadaqah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan Anak saleh yang mendoakannya. ” (HR.Muslim)
Adapun di akhirat, seorang ibu rumah tangga yang konsisten dan bersabar dengan tugasnya, dia akan mengalami perubahan status, yang tadinya ibu rumah tangga menjadi ibu rumah surga….
Jakarta, 26 Rajab 1431/ 9 Juli 2010
umaranung@yahoo.co.id


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: