lailaberbagicerita

"Laa haula walaa quwwata illaa billaahil'aliyyil'adzhim." (Tiada daya & kekuatan kecuali dengan pertolongan ALLAH Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)"

Urutan prioritas Wali Nikah dalam Islam

pada Juni 2, 2012

Nabi SAW bersabda, “Siapapun wanita yang menikah tanpa izin dari walinya, maka
nikahnya itu batil.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Apabila ayah kandung anda sudah wafat, maka anda tidak bisa seenaknya sendiri
mencari wali bagi diri anda. Bahkan seorang hakim diharamkan untuk memotong
kompas begitu saja. Sebab daftar urutan wali setelah ayah itu sudah ditetapkan
dalam Allah SWT. Tidak ada hak bagi siapa pun termasuk hakim untuk menikahkan
wanita, selama masih ada walinya.

Di dalam kitab Kifayatul Akhyar disebutkan daftar orang-orang yang bisa menjadi
wali secara urut, yaitu:

1. Ayah kandung

2. Kakek, atau ayah dari ayah

3 Saudara (kakak/ adik laki-laki) se-ayah dan se-ibu

4. Saudara (kakak/ adik laki-laki) se-ayah saja

5. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah dan se-ibu

6. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah saja

7. Saudara laki-laki ayah

8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah (sepupu)

Mazhab Asy-Syafi`iyyah cenderung mensyaratkan bahwa daftar urutan wali di atas
tidak boleh dilangkahi atau diacak-acak. Sehingga bila ayah kandung masih
hidup, maka tidak boleh hak kewaliannya itu diambil alih oleh wawli pada nomor
urut berikutnya. Kecuali bila pihak yang bersangkutan memberi izin dan haknya
itu kepada mereka.

Penting untuk diketahui bahwa seorang wali berhak mewakilkan hak perwaliannya
itu kepada orang lain, meski tidak termasuk dalam daftar para wali. Hal itu
biasa sering dilakukan di tengah masyarakat dengan meminta kepada tokoh ulama
setempat untuk menjadi wakil dari wali yang syah. Dan untuk itu harus ada akad
antara wali dan orang yang mewakilkan.

Dalam kondisi di mana seorang ayah kandung tidak bisa hadir dalam sebuah akad
nikah, maka dia bisa saja mewakilkan hak perwaliannya itu kepada orang lain
yang dipercayainya, meski bukan termasuk urutan dalam daftar orang yang berhak
menjadi wali.

Sehingga bila akad nikah akan dilangsungkan di luar negeri dan semua pihak
sudah ada kecuali wali, karena dia tinggal di Indonesia dan kondisinya tidak
memungkinkannya untuk ke luar negeri, maka dia boleh mewakilkan hak
perwaliannya kepada orang yang sama-sama tinggal di luar negeri itu untuk
menikahkan anak gadisnya.

Namun hak perwalian itu tidak boleh dirampas atau diambil begitu saja tanpa
izin dari wali yang sesungguhnya. Bila hal itu dilakukan, maka pernikahan itu
tidak syah dan harus dipisahkan saat itu juga.

Adapun hakim hanya berfungsi manakala seorang wanita memang sebatang kara,
tidak punya sanak saudara dan famili. Atau satu-satunya yang muslim di tengah
keluarga yang non muslim. Maka di situlah hakim mendapat kewenangan sebagai
representasi dari pemerintah yang sah. Namun bila masih ada wali yang sah,
hakim itu berdosa bila menikahkan wanita begitu saja.

 

sumber : eramuslim.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: