lailaberbagicerita

"Laa haula walaa quwwata illaa billaahil'aliyyil'adzhim." (Tiada daya & kekuatan kecuali dengan pertolongan ALLAH Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)"

Rasa Ingin Tahu ku tentang Kista Endometriosis

pada Februari 12, 2012

Jakarta,  12 Februari 2012

Satu hari setelah aku ke dokter Bote, hatiku terus gelisah. Semalaman aku menangis dan tak bisa tidur. Hingga akhirnya pagi buta aku telpon sahabat ku. Ku ceritakan kisah ku. Karena aku sempat dengan bahwa sahabat ku ini juga di duga kista pada awalnya namun ternyata kistanya hilang. Berbekal curhat dengan sahabat, maka tanggal 26 Januari, aku putuskan ke dokter kandungan sahabat ku di RSIA Hermina Jatinegara, yaitu dokter Sawitri. Menurut suamiku, dokter Sawitri cukup terkenal juga di forum internet. Perawakannya sedikit bicara dan tidak ribet orangnya, kalau menurut forum internet dan sahabat ku.

Aku dan suami sepakat, bahwa kami tidak akan cerita kalau kemarin kamu sudah ke dokter Bote, karena tujuan kami adalan untuk second opinion. Ritual sama aku lakukan di RSIA Hermina, aku tensi darah dan ditimbang. Tibalah saatnya aku dan suami masuk ke ruang dokter. Saat itu perasaan ku lebih tenang, karena aku sudah paham, kurang lebih tindakan apa yang akan dokter lakukan padaku. Benar saja, dengan sikap tenang dokter Sawitri meminta ku untuk duduk di ruang periksa. Kesanku saat itu, kok di sini aku cuma disuruh duduk di kursi yang sedikit bersandar dan ada penyangga kakinya ya, kalau di RSIA Tambak aku tiduran. Jadi aku agak kaku di kursi ini. Trus kalau di RSIA Hermina, komputer usgnya masih model lama dengan layar kecil, nah kalau di di RSIA Tambak usgnya sudah dibantu dengan layar LCD di depan pasien, jadi pasiennya bisa ngeliat hasil usg tanpa perlu nengok-nengok ke kiri/kanan.

Dokter Sawitri pun mulai menjelaskan hasil gambaran usg. Inna lillahi..kista itu masih tergambar dengan ukuran yang sama. Namun bedanya, dokter Sawitri tidak menatakan ada myom melainkan sel telur ku kecil-kecil. Ya ALLAH apa lagi ini, sel telur kecil ? memangnya seharusnya bagaimana ? kenapa bisa kecil ? bagaimana cara membesarkannya ? apa pengaruhnya ? semakin banyak aku bertanya, dan semakin sadar aku betapa minimnya pengetahuanku tentang alat reproduksiku sendiri. Padahal aku pernah mempelajari ini di biologi SMP dan SMA. Tapi kenapa aku baru paham kalau hal-hal seperti ini bisa terjadi.

Sama seperti dokter Bote, dokter Sawitri pun menyarankan laparoskopi. Berbeda dengan reaksi di depan dokter Bote, aku lebih banyak bertanya di depan dokter Sawitri. Dan ternyata tidak terbukti kata sahabatku, kalo dokter Sawitri katanya sedikit bicara, buktinya dengan sabar dokter Sawitri menjawab semua pertanyaanku.

“jangan minum jamu ya ?” saran dokter sawitri, “kenapa dok ?” “kistanya bisa cepat membesar.” “oo..saya bulan lalu gejala typus minum vermin dok.” “emangnya vermin jamu ?” dokter sawitri balik bertanya. “lho kan di kemasannya ada logo jamu dok, gambar daun.” “oo” jawaban singkat dokter sawitri. Percakapan yang cukup lucu menurutku. Ditambah lagi cerita-cerita tentang jamu tolak angin dan sebagainya.

Sebelum keluar dari ruang dokter, aku dan suami disarankan untuk tes hormon dan tes sperma. Tujuannya untuk mengetahui keseimbangan hormonku dan kualitas sperma suami. Cek harga di laboratorium rumah sakit, subhanallah harganya cukup besar. Tapi insyaALLAH semua sudah ALLAH sesuaikan dengan kemampuan kami.

Tes hormon yang aku lakukan harus H 3, sedangkan suami tes sperma dengan melakukan puasa hubungan selama beberapa hari dahulu. Tanggal 4 Februari aku melakukan tes hormon. Aku semula tak terbayang, seperti apa tes tersebut, ternyata hanya berupa pengambilan darah. Yang unik adalah tes pengambilan sperma suamiku. Dia tak nyaman dan sempat nyaris dikatakan gagal untuk masuk uji lab, karena jumlahnya yang sedikit, namun setelah dipaksakan akhirnya jumlahnya lumayan cukup, namun hasilnya tidak dijamin karena suamiku sempat membawa keluar lalu masuk lagi ke ruang tes, padahal cairan sperma tersebut harus dalam suhu ruang dan dilakukan dalam 1 waktu, tidak tertunda-tunda seperti yang dilakukan suamiku. Tapi suamiku bilang, seperti ini sudah cukup, karena suamiku tak ingin mengulang lagi yang artinya suamiku harus puasa berhubungan lagi, tak sanggup katanya, bisa stress. Ya ALLAH..sabar ya suamiku.

Tanggal 11 Februari kami kembali ke dokter Sawitri dengan membawa hasil laboratorium. Dari hasil tes hormon ku tak seimbang. Normalnya perbandingan hasil hormon adalah 1 : 1, sedangkan hasilku tidal 1 : 1 (aku lupa sih hasil pastinya). Sedangkan suami hanya dinyatakan kurang aktif geraknya, dan disarankan minum vitamin E. Lagi-lagi kami disarankan kembali setelah 1 tahun pernikahan. Aku disarankan untuk santai dan tetap berusaha hamil dengan normal.

Entah kurang puas karena distop konsultasi atau karena batinku yang belum tenang, aku merasa ingin mencari dokter lain. Suamiku hanya bisa menenangkan dan memberikan support. Kata suamiku “mau ke berapa dokter pun, kalau hati kamu blom tenang dan ikhlas, pasti akan terasa kurang terus.”

Ya ALLAH..apa hamba belum ikhlas ? hamba hanya berusaha mencari jawaban ? masih terlalu banyak pertanyaan di kepala ku ini. Hamba mohon ya ALLAH..berilah petunjuk MU untuk semua yang hamba hadapi ini. Hamba membutuhkan MU ya ALLAH..

=La!La=

Dalam keheningan malam.

Berserah Diri kepada MU ya ALLAH swt.

Lindungi hamba ya ALLAH swt.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: