lailaberbagicerita

"Laa haula walaa quwwata illaa billaahil'aliyyil'adzhim." (Tiada daya & kekuatan kecuali dengan pertolongan ALLAH Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)"

=Hijrah=

pada Januari 20, 2010

Jakarta, 20 Januari 2010

Usiaku sudah tidak muda lagi..walaupun di zaman sekarang wanita seusiaku masih banyak yang berjuang sendiri, namun hatiku tetap saja merasa terus berkejaran dengan detik-detik waktu.

Ya..aku ingin menyempurnakan ½ agamaku dengan menjalankan sunah Rasulullah saw. Namun itu tak semudah khayalanku sewaktu SD. Ketika SD aku selalu berpikir menikah itu sudah pasti dilalui setiap wanita dengan mudah. Saat selincah itu aku selalu menghadiri pernikahan om dan tante, setiap hadir di resepsi pernikahan aku selalu melihat sepasang pengantin yang terlihat cocok sekali, banyak bahkan yang aku dengar sebagian dari mereka menikah dengan pacarnya sewaktu bangku sekolah SMA/kuliah. Maka aku pun terus terngiang bahwa menikah itu umumnya dengan pacar di SMA/kuliah. Maka rasanya aku tak sabar ingin secepatnya dewasa dan duduk di bangku SMA/kuliah. Aku sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa sosok pasanganku nanti di pelaminan.

Rasa tak sabarku akhirnya membuahkan hasil, walaupunn sudah pasti dan mutlak setiap manusia akan mengalami pertumbuhan, aku akhirnya duduk di bangku SMA. Sayang sungguh di sayang, NEM ku tak sanggup untuk mengantarkan ku ke SMA terfavorit di wilayahku, namun alhamdulillah aku masih bisa duduk di bangku SMA yang cukup favorit di wilayahku. Ya..SMA ku cukup bergengsi baik secara prestasi akademik ataupun secara nama besar alumni-alumninya. Banyak alumni dari SMA ku yang namanya tersohor.

Kakiku melangkah di gerbang SMA. Aku bukanlah anak gaul dengan fisik yang cuaaaantik, tapi aku cukuplah membuat orang merasa tidak jenuh memandang wajahku, karena celotehan-celotehanku dan (katanya sih) kemanisan wajah dengan alis tebalku. Hehe… Di tingkat pertama sudah pasti umumnya setiap gadis sepantaranku memiliki gebetan (aih bahasa jadul sekali ini. Hehe…) Begitu juga dengan aku, gebetanku bukanlah kakak kelas, cukuplah teman seangkatan, pikirku biar gampang dan lama ngegebetnya kan bisa 3 tahun. Hehe alasan irit tak berbobot.

Ternyata aku tak hebat dalam urusan gebet menggebet. Aku hanyalah pahlawan gerilya. Hanya berani ketika siempunya hati tak menyadari bahwa aku beraksi menggebetnya. Ketika siempunya hati sadar kalau aku menggebetnya, aku kabuuuurr. Hehe.. Sudah jelas dong gatot alias gagal total gebet menggebetnya. Tapi tak apalah, setidaknya detik-detikku di bangku SMA terhiasi oleh cerita remaja pada umumnya, seperti di sinetron-sinetron. Hehe..

Bersyukur alhamdulillah, itulah yang selalu kuucapkan. Aku melangkahkan kakiku di SMA tersebut, karena yang kupahami, ekskul ROHIS SMA ku termasuk yang sedang berkobar-kobarnya menggaet junior-junior. Dan bersyukur alhamdulillah aku tidak terlalu gaul, hingga akhirnya aku terpaksa (awalnya) memilih ekskul ROHIS, karena di SMA ku setiap siswa wajib memilih 1 kegiatan ekskul. Pikirku saat itu dengan ROHIS aku cukup duduk di musholla sekolah lalu dapat nilai. Iya memang benar, 1 tahun aku duduk manis aku dapat nilai ekskul. Namun di tahun ke 2, hatiku tergerak. Benarlah jika kita berteman dengan penjual minyak wangi maka kita pun akan mendapatkan wanginya. Ya..setelah 1 tahun aku berduduk manis di ROHIS aku cukup dikenal sebagai sosok siswi yang tak mungkin macam-macam secara pergaulan. Setia[ pekan berkumpul dengan sahabat-sahabat ROHIS, terlebih dengan mentor-mentor yang terlihat anggun dengan busana muslimah. Hatiku pun tergerak ingin berbusana muslimah. Alhamdulillah pada tingkat 2 aku belajar menjadi muslimah yang digambarkan dalam Al-quran, walaupun masih level pemula.

Alhamdulillah aku lulus SMA. Ya..walaupun lulus dengan titel tak berpacar selama 3 tahun. Hehe..khayalanku sudah gugur perlahan-lahan. Tapi batinku, eits nanti dulu..kan masih ada bangku kuliah. Hehe..harapanku khayalan-khayalanku tak layu saat itu.

ALLAH Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-hamba-NYA. Aku masuk Perguruan Tinggi Negeri. Alhamdulillah dengan prestasiku tersebut aku dapat membanggakan Mamaku dan Papa. Selain itu aku pun juga dapat meringankan beban pikiran mereka mengenai beban biaya kuliah. Alhamdulillah PTN tak mahal biaya kuliahnya, itulah alasan utama yang membuatku selalu berdoa kepada ALLAH swt agar aku dapat diterima di PTN. Alhamdulillah ALLAH Maha Mendengar doa hamba-hamba-NYA yang bermunajat demi kebaikan. ALLAHU Akbar.

Awal perkuliahan diriku ibarat peneliti yang sedang bereksperimen dengan dirinya sendiri. Aku berpenampilan secuek mungkin, jilbabku berubah, entah “sabun cuci” apa yang aku pakai sehingga membuat jilbabku menyusut. Aku pun semakin nyaman berkumpul dengan teman-teman lawan jenis. Pikirku saat itu simple, kalau sahabat laki-laki ga rewel dan pasti akan lebih setia. Tidak seperti sahabat wanita yang mudah tergores karena kesalah pahaman sekecil apapun. Ya..benar saja. Setiap waktu istirahat para sahabat tangguh ku itu selalu mengawalku. Jumlahnya tak sedikit, cukuplah untuk mengawalku di sisi kanan, kiri, depan, belakang. Hehe..aku layaknya Ratu Minyak. Hehe.. Bahkan ketika tugas kuliah dan ujian pun rasa setia para sahabat tangguh ku itu semakin terbukti. Kami semakin menjadi sorotan teman 1 fakultas. Memang aku bukanlah Ratu Minyak satu-satunya di kelompok ini, masih ada 1 Ratu lagi, namun Ratu yang 1 ini bertolak arah pemukimannya, sehingga sering terlihat absen berkumpul ketika di awal dan akhir waktu perkuliahan. Eits..aku teringat khayalanku, aku masih memikirkan seperti apa nanti sosok pasanganku di pelaminan. Tapi entah mengapa, tak terbesit sedikit pun di benakku tuk menjadikan salah satu sahabat tangguh ku sebagai kandidatnya. Pikirku saat itu, aku sudah cukup nyaman dengan semua ini dan aku tak ingin merusak kenyaman itu.

Ternyata salah satu sahabat tangguh ku runtuh dalam lingkaran persahabatan yang sudah kami rintis selama 1 tahun. Sang Ratu sahabat ku mencoba menjadi pengiring sahabat tangguh ku. Aku tak nyaman, aku menjauh, aku menyendiri. Hingga akhirnya salah satu dari mereka menghampiri ku dan bertanya mengapa aku menghilang dari peredaran. Aku membungkus kisah ini dengan sebaik mungkin. Di keheningan dia mulai pembicaraan “Elo tuh emang asyik gabung sama kita-kita. Tapi apa loe ga sadar siapa loe sebenarnya. Loe berjilbab, loe perempuan kan. Tapi kok cuma jilbab loe aja yang menggambarkan kalo loe itu perempuan. Yang lainnya malah bikin loe ga jelas, laki bukan perempuan bukan.” Aku tersentak “maksud loe ?!!” “ Iya..loe perempuan tapi loe bukan perempuan.” Tersentak dan terdiam diri ku saat itu. Namun aku bagai tercambuk dan tersadar, ucapan sahabat ku terus terngiang di benakku. Lama aku merenung dan memaknai apa yang tersirat dari ucapannya. Hingga akhirnya ALLAH memberikan hidayah kepada ku.

Aku  tergerak untuk berhijrah menuju kesempurnaan, ku perbaiki diriku secara lahiriah. Semua mata terpana melihat ketika aku masuk kelas. Aku yang terpernah lepas dengan jeans dan kaos, kini menggunakan rok dan baju kurung tertutup  jilbab berlapis-lapis. Ya..aku hijrah, dan aku tak ingin setengah-setengah. Aku hubungi teman sekelasku yang berkecimpung dalam kegiatan kerohanian. Aku meminta tuk menjadi binaan seperti layaknya di awal perkuliahan. Subhanallah jawaban itu secepat kilat. Aku akhirnya berkumpul dengan 3 sahabat hijrah ku lainnya. Kisah kami pun tak jauh berbeda. Kami berempat hanyalah kurcaci yang sedang bersemangat mengejar dan meraih Cinta-NYA. Alhamdulillah..kami berempat perlahan tumbuh menjadi pohon rimbun dan kokoh dan berusaha istiqomah walaupun diterpa angin. Jika ku ingat, aku sungguh bersyukur, Alhamdulillah inilah cara ALLAH swt tuk merangkul ku kembali dalam koridor-NYA.

Namun perubahan diri ku bukanlah hal yang mudah. Sahabat tangguh sang Ratu Minyak perlahan menjauh dari diriku. Sang Ratu dan 1 sahabat tangguh ku berpikir perubahanku karena usaha mereka bergerilya mendekati hati ku. Sedangkan yang lainnya berpikir aku tak lagi asyik diajak berkumpul, karena selalu menghilang dan bersembunyi di dalam musholla. Subhanallah..sahabat..aku sebenarnya rindu masa-masa berkumpul dengan kalian. Namun maafkan aku, aku lebih rindu untuk berkumpul dengan orang-orang yang merindukan kasih sayang ALLAH swt.

Hingga akhirnya tanpa terasa 2,5 tahun ku lalui bangku kuliah dengan menjadi individu yang mandiri. Aku barangkat dan pulang sendiri, mengerjakan tugas sendiri, hingga duduk terdepan di kelas ketika ujian. Jika ku rindu sahabat tangguh dan sang ratu, aku hanya bisa memutar kepala ku ke sisi belakang kelas, mereka tak berubah.Keceriaan mereka dan kekompakan mereka hanya bisa ku balas dengan sapaan dan senyum ringan. Ingin rasanya ku berbisik di telinga mereka dan berkata “aku rindu kalian” tp ya ALLAH..aku sadar, jika ku raih rasa rindu itu, maka aku akan goyah dalam perjuangan menggapai cinta-MU. Aku mungkin akan lebih banyak menghabiskan waktu di lobby fakultas, di kantin, di warnet, atau di rumah mereka. Ya..ini lah konsekuensinya.

Namun alhamdulillah..di akhir tingkat, kami dapat berkumpul kembali di perpustakaan. Ya..kami berjuang bersama tuk menyusun skripsi. Alhamdulillah kami berhasil. 4 tahun sudah kami mengukir sejarah di Kampus tercinta. Lalu bagaimana dengan khayalan ku ? Bagaimana dengan sosok pasanganku nanti di pelaminan ? Aku sudah menemukan jawabannya. 2,5 tahun aku belajar menjadi muslimah sejati, aku pun tersadar bahwa ALLAH swt yang akan mengantar suami ku kelak ke depan pintu rumah ku dengan semua tahapan yang syar’i.

Insyaallah..aku akan menanti. Bersabar menunggu mu wahai ikhwan yang dicintai ALLAH swt. insyaALLAH..aamiin..

=La!La=


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: